Puisi banjir melanda, kota Bima.

Pohon yang rindang nan hijau engkau tukar dengan sebutir jagung yang kau tanam.

Akulah hujan .

Aku membawa keberkahan dari bumi manusia aku datang sesuai porsi di musimku tidak lebih dan tidak kurang.

Ketika kudatang di masalalu tak ada yang mengeluh tentangku, dan ketika kudatang di masa sekarang semua pada risau terhadapku.

Bukan aku penyebab banjir tapi kalian wahai manusia serakah.

Engkau gundilin gunung-gunung di atas sana, gunung rindang menjadi gersang.

Engkau tebang pohon-pohon yang akan menyerap airku, demi sebutir jagung yang engkau jual.

Tak cukupkah alam memberimu persawahan, daratan rendah yang engkau tempati.

Jangan salahkan aku ketika pohon-pohon yang menyerap airku di atas gunung sudah tiada lagi, karena aku akan tetap deras di musimku.

Laut yang menjadi tempat terakhirku berteduh engkau kotori dengan sampah-sampah.

Wahai manusia serakah.

Jangan salahkan aku ketika airku mengalir di sungai-sungai mencari tempat untuk menyerapnya, dan di kediamanmulah yang akan menjadi sasaran terakhir airku berteduh.

Ketika air hujanku berteduh engkau menyebutnya dengan nama banjir, yang akan mendatangimu penyakit, kematian karena keserakahanmu sendiri.

Wahai manusia tak pernah puas..

Ketika Allah menegur mu Dengan badai angin yang menerpa jagungmu pernahka engkau berpikir ujian apa dan musibah apa.??

Pernahka engkau bertanya apakah itu.???

Itu adalah teguran karena alam rindang nan hijau alami engkau sulap menjadi sebutir jagung yang engkau tanam.

Yang membuat nya murkah dan marah jangan salahkan aku ketika aku datang karena..?? Jika suatu saat aku muak karena tidak ada lagih tempatku berteduh.

Gunung yang menyerapku engkau gundilin, pohon yang menyerapku engkau tebangi laut tempat terakhirku engkau kotori maka aku akan berhenti.

Semua akan menjadi musnah tempatku.

Gunung yang engkau jadikan butiran jagung tak akan bisa engkau gunakan. Pohon yang menjadi tempatku berteduh sudah tak ada lagi, laut tempat mencari laut paut sudah di penuhi sampah.

Maka engkau akan punah dengan itu semua. Sadarlah wahai manusia engkau akan salahkan pemimpin mu, engkau akan salahkan semua orang sedangkan. Engkau dan pemimpinmu sama-sama haus akan ketidak pedulian mu ..

Jika engkau mengeluh tentang ku maka aku akan mengatakan goot by.

Dan jangan mencariku ketika engkau haus akan air.

Jangan salahkan siapa pun tetapi lihatlah diri sendiri.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai